Pada zaman digital sekarang media sosial tidak seaman yang kita bayangkan, terutama di kalangan remaja. Kekhawatiran tersebut muncul berdasar data survei yang dikeluarkan UNICEF (2020) terhadap 2.777 remaja di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 45% dari mereka mengaku pernah menjadi korban cyberbullying. Angka ini menjadi tanda bahaya mengenai betapa rentannya generasi muda terdampak perundungan di dunia digital.
Pada Oktober 2025, kasus dugaan cyberbullying menimpa seorang mahasiswa Udayana berinisial TAS, menjadi perhatian nasional. TAS ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari gedung kampus. Sayangnya kabar duka tersebut justru menjadi bahan perundungan di dalam grup percakapan daring rekan-rekan kampusnya. Kejadian tragis ini memicu diskusi mendalam tentang bahaya cyberbullying di lingkungan pendidikan dan perlunya sistem dukungan mental yang kuat.
Pengertian Cyberbullying
Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. (Sumber: UNICEF)
Jenis-jenis Cyberbullying
Cyberbullying tidak hanya berupa komentar negatif, tetapi juga tindakan yang dapat membuat korban marah, malu, hingga takut. Berikut adalah beberapa macam perilaku cyberbullying:
Flaming
Mengirimkan pesan berisi kata-kata cemoohan dan kasar.
Harassment
Mengirimkan pesan secara berulang-ulang.
Impersonation
Menyamar atau meniru identitas seseorang.
Ancaman
Mengirim pesan atau komentar berisikan ancaman.
Cyberstalking
Memata-matai, menguntit dan mengganggu seseorang secara intens.
Penyebab Seseorang Menjadi Pelaku Cyberbullying
Setelah mengetahui beragam jenisnya, muncul pertanyaan penting: Apa yang membuat seseorang tega melakukan tindakan tersebut? Meskipun tindakan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, mayoritas kasus cyberbullying melibatkan remaja sebagai pelaku utamanya. Perilaku perundungan di internet tidak terjadi begitu saja, ada beberapa hal yang melatarbelakangi tindakan agresif tersebut, antara lain:
Kurangnya Pengawasan Orang Tua
Kurangnya pengawasan dari orang tua dapat membuat anak mudah terpapar konten negatif yang mereka temukan atau dapatkan di media sosial. Konten negatif ini memiliki pengaruh yang tinggi untuk ditiru seseorang dalam keseharian.
Kebebasan Berekspresi
Pelaku melihat beberapa orang melakukan cyberbullying di media sosial secara terang-terangan. Hal tersebut membuat pelaku merasa bahwa jika ia berbuat seperti itu, perilakunya diperbolehkan karena banyak orang juga melakukannya dan tidak ada yang melarang.
Ingin Merasa Diakui
Kemungkinan pelaku memiliki kekurangan yang disembunyikan. Untuk menutupi kekurangan tersebut agar tidak disadari orang lain, pelaku melakukan cyberbullying yang membuatnya ditakuti sekaligus dipuji. Dengan demikian, pelaku berhasil menutupi kelemahan dalam dirinya.
Sempat Menjadi Korban Cyberbullying
Terkadang, pelaku cyberbullying dahulunya adalah korban perundungan yang sama. Karena pernah dirundung melalui media sosial, ia pun melakukan hal tersebut kepada orang lain sebagai bentuk balas dendam.
Penyebab Seseorang Menjadi Korban Cyberbullying
Menjadi korban cyberbullying bukanlah pilihan, tetapi dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia atau latar belakang. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan atau berisiko menjadi sasaran perundungan daring, di antaranya:
Perbedaan Latar Belakang
Adanya perbedaan latar belakang dapat menyebabkan pandangan negatif dari pelaku. Beberapa perbedaan yang sering menjadi sorotan adalah Agama dan Ras.
Korban yang Terlalu Pendiam dan Tidak Memiliki Keberanian
Pelaku memiliki pandangan bahwa orang yang pendiam tidak akan memiliki keberanian bertindak apapun ketika diganggu.
Adanya Konflik yang Terjadi antara Pelaku dan Korban
Adanya konflik membuat pelaku ingin melakukan perundungan kepada korban.
Karakteristik Fisik yang Berbeda
Pelaku memiliki anggapan bahwa ciri fisik yang berbeda itu tidak menarik. Padahal, setiap orang punya ciri fisik yang unik dan menarik.
Dampak bagi Korban Cyberbullying
Terdapat banyak dampak yang ditimbulkan bagi korban cyberbullying diantaranya emosional, mental, hingga fisik. Korban bisa mengalami kecemasan, depresi, kehilangan kepercayaan diri, dan isolasi sosial. Selain itu, dampak fisiknya bisa berupa gangguan tidur, sakit kepala, dan masalah pencernaan. Dalam kasus yang parah, cyberbullying dapat menyakiti diri sendiri dan bahkan percobaan bunuh diri.
Dampak Emosional
- Perasaan negatif: Merasa takut, malu, marah, terhina, dan tidak
- Perasaan terisolasi: Merasa dikucilkan dan kehilangan minat pada hal-hal yang
Dampak Kesehatan Mental
- Stress kronis: Mengalami stres
- Gangguan Kecemasan: Peningkatan tingkat kecemasan dan kekhawatiran
- Depresi: Depresi yang dapat menyebabkan hilangnya kebahagiaan dan kepuasan hidup
- Kehilangan harga diri: Menurunnya kepercayaan dan harga
- Risiko bunuh diri: Dalam kasus ekstrem, dapat muncul pikiran dan percobaan bunuh
Dampak Fisik
- Gangguan tidur: Mengalami kelelahan karena kurang
- Masalah pencernaan: Sakit perut, maag, mual/diare.
Dampak bagi Pelaku Cyberbullying
Dampak cyberbullying biasanya tertuju pada rasa sakit yang dialami korban. Namun, kita juga perlu melihat sisi lain, yaitu mereka yang menjadi pelaku. Mereka akan merasakan dampak psikologis sulit menghadapi masalah sosial di lingkungan, ditambah lagi dengan risiko hukum yang nyata. Berikut penjelasan yang lebih lengkap:
Dampak Psikologis dan Emosional
- Masalah kesehatan mental: Peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku lainnya karena tekanan dari lingkungan, rasa bersalah, atau penolakan dari teman.
- Agresivitas dan impulsivitas: Sering kali mengarah pada perakaku agresif, mudah marah, dan tindakan impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya
Dampak Sosial
- Isolasi sosial: Perilaku negatif dapat membuat pelaku sulit diterima dalam lingkungan sosial dan justru dicap negatif oleh masyarakat.
- Hubungan yang tidak sehat: Memicu hubungan yang tidak sehat dengan orang lain Karena kurangnya empati dan pemahaman.
Dampak Hukum
Sanksi hukum: Dapat menghadapi konsekuensi hukum Seperti denda atau hukuman penjara, sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Mengatasi Cyberbullying
Lantas, jika terjadi cyberbullying, apa yang harus dilakukan? Berikut adalah beberapa solusi nyata dan langkah tepat sasaran bagi kalian yang menjadi korban cyberbullying untuk melindungi diri dan menghentikan perundungan tersebut:
Menghentikan Interaksi
Semakin kamu pedulikan, semakin pelaku akan terus mengganggumu, silakan blokir pelaku jika ia terus mengganggumu.
Menyimpan Bukti
Kamu bisa menyimpan buktinya dengan tangkapan layar atau screenshot yang dapat digunakan untuk melaporkan.
Melaporkan ke Pihak Berwenang
Jika kamu tidak bisa menghadapi ini sendiri, kamu bisa melaporkannya kepada pihak berwenang. Silakan bawa barang bukti untuk memperjelas.
Mendapatkan Dukungan Emosional
Dukungan bisa sangat membantu kamu agar lebih merasa nyaman. Bantuan bisa didapatkan dari orang tua, psikolog, teman dekat, dan lain-lain.
Jangan Membalas Pesan Mereka
Dilarang membalas dikarenakan akan memperburuk situasi.
Cara Mencegah Cyberbullying
Setelah membahas solusi secara umum, fokus beralih pada pencegahan. Menangani masalah sejak awal jauh lebih baik daripada memperbaiki setelah terjadi. Berikut adalah langkah-langkah nyata dan mudah tentang cara menghindari cyberbullying, terlebih lagi untuk orang tua yang memiliki peran besar dalam mendidik dan mengawasi anak:
Orang Tua Harus Mengetahui Dunia Digital Anak
Orang tua harus dapat menyaring konten negatif yang sering muncul di media sosial. Hal ini dapat mencegah terjadinya peristiwa cyberbullying pada anak.
Orang Tua Harus Bisa Membuka Hati Anak
Dengan sering mengajak bicara anak dan menanyakan keseharian mereka, baik saat di sekolah, bermain, berjalan-jalan, dan aktivitas lainnya, lama-kelamaan anak akan semakin terbuka kepada orang tua. Dengan demikian, orang tua dapat mengetahui kejadian yang dialami sang anak serta memberikan saran atau pelajaran berharga terkait pengalaman tersebut.
Orang Tua Harus Mengedukasi Anak soal Bahayanya Cyberbullying
Melalui edukasi ini, anak-anak akan mengetahui betapa bahayanya cyberbullying di dunia maya.
Orang Tua Harus Menjadi Contoh Positif bagi Anak
Sebab, perilaku orang tua akan dicontoh oleh anak, baik perilaku yang baik maupun yang buruk.
Menjaga Privasi dalam Mengunggah Konten
Jangan terlalu mengumbar rutinitas atau privasi sehari-hari dan jangan terlalu membuka diri di media sosial. Bisa saja suatu hari, tanpa sadar, kamu sudah terlalu membuka privasi orang lain melalui unggahan kamu.
Cyberbullying adalah masalah besar yang bisa melukai banyak orang, baik yang jadi korban maupun pelaku. Dampak yang ditimbulkan bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan bekas luka mendalam yang bisa merusak masa depan seseorang. Karena itu, sudah saatnya kita semua berhenti diam. Sebagai pengguna media sosial, kita punya tanggung jawab untuk saling menjaga dan melindungi. Mulailah dengan menggunakan kata-kata yang baik dan tidak menyakiti orang lain. Laporkan jika melihat ada perundungan terjadi. Mari kita wujudkan media sosial yang aman dan nyaman untuk semua, karena kepedulian kita sangat berarti untuk menciptakan perubahan nyata.
Karya:
Mahreen Arfia Zhafira
Kirama Muflihuna Firdausy
Raihanah Shafiy Renaldy